bunga puncak gunung


Hari-hari hidup dalam kesendirian, saat bintang bintang mampu berkelip, saat malam menjadi dingin, ketika pagi menjadi seperti biasanya. Tak kan mungkin kita bertahan, hidup dalam kesendirian, panas terik hujan badai kita lalui bersama, saat tak tahu arah tujuan kau tahu arah tujuan, saat hilang arah tujuan justru kau tahu kemana arah yang jelas. Dan kita mencoba untuk melawan dengan bersama-sama. Tak sanggup bila diri ini berdiri sendiri. Dan kita lalui bersama untuk mencoba menulis dan melukiskan kisah kita.
Betapa berharga kenangan kita lalui, bebas berandai mengulang waktu dan mimpi indah bersama. Masa yang telah kita tapaki bermasa. Dejavu diri mengenangnya, kembalilah saudaraku untuk kita jalani bersama, dan bila kita menangis bersama, tegar dirimu untuk menghadapinya. Sungguh luar biasanya dirimu itu tanpa cinta itupun takkan mungkin yang telah mengisi kealpaan dan mencoba mengikuti jejak langkah mu, dan mencoba merangkul erat dalam dekapan bersama, tegar melawan tempaan dan kerasnya jejak kehidupan ini. Dan bila kuhentikan waktu untuk bersama menikmati waktu kita bersama berangkulan. Andai kembali saat ini kan terlukiskan makna indah, maka jika kalian semua menangis, maka menangislah untuk mimpi yang telah kita lewati bersama.
Hati ku menangis, tertulis dengan pasti dalam kenangan ku bersama. Peluk mesra tubuhku kita semua, semoga hati kita bersatu dan menjadi milik kita bersama, ku kan tenang melewati ini tanpa dirimu, diantara beribu yang lainnya ku mampu lewati masa-masa yang masih dalam tulisan yang Maha Kuasa. Berlarilah tanpa susah untuk meraihnya, bebaskan langkahmu wahai saudaraku. Dan jika waktu telah berbicara dan kalian merasa rindu akan kenangan indah bersama, maka bukalah memori kita bersama dengan keindahan alam, keindahan puncak gunung, dan keindahan suara alam. Kenanglah selalu waktu kita susah bersama. Selamanya kan tercipta indah. Sampai maut menjemput kita semua.
Wahai saudara-saudara ku, kini hati ini mulai resah dan gelisah, kuharap engkau masih menyimpannya. Takkan ku hapus dan meyakinkan mu untuk bercanda riang diatas pendidikan lapangan kita waktu itu, menangis dalam pelukkan dan rangkulan pundak kita masing-masing. Andai ku dapat memutar waktu, sungguh indah perjalanan kita menerobos alam, dan menikmati indahnya ciptaanNya.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Untuk Komentar Anda Di Artikel Ini.