Sebuah Nama: Hanya Ada Nama

Angin malam berhembus. malam kian larut bersama tarian rindu. saat hening menyapa, saat itu pula hadir sebuah bayang. menari bersama gejolak benih asa yang tumbuh bersemi. kau yang sedang menanti, sabarlah dalam penantianmu. kau sedang bertahan dalam harapan, berusahalah untuk harapanmu. sirami keyakinanmu dengan butiran do'a disetiap sujudmu. ambilah pelajaran dari setiap langkahmu. bercerminlah dari masa lalu yang telah lalu. rawatlah apa yang menjadi milikmu. hari ini adalah nyata, hari esok adalah harapan. tetaplah berdiri walau badai kerap menyapa. karena perjuangan untuk sebuah harapan akan senantiasa dibumbui oleh ujian.dan sejauh mana kita bertahan dan memetik pelajaran penting, untuk masa depan yang lebih baik. angin malam. bawalah petuah rinduku bersama bulan yang tersenyum dihamparan langit. hiasi malam dalam keheningan.

bekerja membuatku terlupa akan sesuatu "tentang itu". mahligai indah sebuah nama. insya Allah akan kulalui kelak. dan aku masih percaya akan suratan takdir. itu sudah terencana. kelak siapa tandingannya, aku hanya berharap lebih pada Tuhanku Allah SWT. 
 
26/05/2012 Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Mari Kita Bongkar

Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja. (Che Guevara)

Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!

Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian. Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Katanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua.

Belum Ada Judul (Aku Laki-Laki Tegar)

Penghantar jiwa pembawa mimpi. Bernaung di celah celah harapan. Terjaga sejuta persepsi terusik ketenangan hati. Disana kau ku dengar lihat ku senyuman yang indah, bertanya pada rumput yang bergoyang akan diamnya. Lagi lagi harus ku berlari dan berlalu akan lelahnya. Kepada siapa lagi ku percaya kalau bukan awan kepada siapa ku adukan kecuali rumput yang bergoyang? Angin masih setia membalut kebekuan tubuh ini, lelah ku robohkan padamu ilalang ku nyaman.harap ku buka mata kan menemani ku pada bintang di atas sana mengiringi bayang dan senyummu. Daun yang jatuh pun tidak pernah membenci angin.

Hari ini aku kembali menyaksikan kuasamu. Aku berjalan dirimba yang tak biasa. Hutanmu yang rimbun diselimuti kabut tebal, kabut yang terkadang berubah menjadi rintik hujan. Ketika hari mulai gelap para penyanyi malam mengalunkan lagunya. Mengisi kesunyian hutanmu seakan menghibur diriku yg melangkah tanpa kata. Dibalik misteri belantaramu tersimpan keindahan yang tiada tara. Sinar mentari menyelinap masuk kedalam rimbamu. Hutan lumutMu adalah lukisan nyata, mata ini dimanjakan oleh keindahanNya. Semua semakin indah ketika kabut menari-nari diatas Telaga Dewi yang aku kagumi.
 
Cukup cintai dia dalam diam, karena diammu adalah suatu bukti cintamu kepadaNya, dengan diammu itu dapat memuliakan kesucian diri dan hatimu juga. Jiwa dalam diammu tersimpan sebuah kekuatan dan harapan, hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi kenyataan. Hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata dan bukan angan semata. "Bukankah Allah tak akan memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?"

Aku buka kembali album kenangan kala SMA dulu. Senyum manis tersirat diantara teman-teman lain dalam foto perpisahan kelas 3 itu. Setelan jas yang rapi dengan dasi menempel erat di leher. Foto itu terus aku tatapi.

“Aku mau meneruskan ke perguruan tinggi” ucap temanku dalam perbincangan di sela-sela istirahat waktu sekolah dulu.”

“Kamu mau meneruskan kemana Jojo?” Tanya temanku.

“Aku?” jawabku balik bertanya.

Aku tergagap bingung sendiri. “Suatu saat nanti jika lulus dari SMA ini, aku ingin meneruskan ke perguruan tinggi” batinku.

Aku masih terdiam, bingung mau jawab apa. Namun, aku pun dengan percaya diri menjawab “Aku mau meneruskan ke perguruan tinggi yang ada di Bandung Ren” ucapku dengan seyuman kaku. Itu adalah impianku untuk melanjutkan sekolah.