Girl Watching

Assalammu’alaikum bloggers, sudah lama tidak bersua dengan tulisan-tulisanku, singkat cerita ternyata ada satu folder dalam harddisk eksternal-ku yang berkapasitas 500 GB yang aku beri nama catatan 1695 mdpl dan saya tercengang ketika membacanya beberapa artikel tulisanku ada puluhan berlabel microsoft word dan notepad dalam folder tersebut. Semua cerita tentang Bi**dari 1695 (sengaja saja * karena takut muncul pada mesin pencari Google). Ok sekarang saya akan pilah-pilih lagi untuk saya publish di blog ini, karena takut ada pihak pihak yang tak berwenang yang sengaja mengcopy-pastekan tulisan ini, dan sudah terbukti ada beberapa temen yang mengcopy tulisan ini. Kalau bahasa rendahnya ‘mah “hargailah saya yang sudah menulis”. Tak apa klo mau mengcopy, asal alamat URL-nya tolong cantumkan kembali kawan.

Berikut adalah tulisan aku waktu masih menjabat sebagai mahasiswa salah satu Universitas terkemuka di daerah Bandung, kalau tidak salah ceritanya aku sedang membaca dan menghapal sebuah materi kuliah “Ekologi Pekarangan” di Taman Teletubbis – Cekdam Unpad, Jatinangor. Didalam Tas hanya ada notes, beberapa alat tulis, Binokuler, Air mineral dan Field Guide Burung Jawa dan Sumatera Karya Mc Kinnon.

Singkat cerita sore itu seusai menunaikan Sholat Ashar aku mencoba menyalurkan hobi aku yaitu Birdwatching tapi sore itu bukannya belajar membaca buku Ekologi Pekarangan atau pengamatan burung, tapi malah jadi “Girlwatching” dengan Spesies Burung “Bidadari 1695”. Cekibrot bloggers :

Dari mana datangnya lintah
Dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Sebait pantun tersebut sudah sejak lama sudah dikenal. Sebuah bait yang menggambarkan bagamaina proses munculnya cinta. Dari sebuah pandangan mata kemudian memunculkan perasaan di hati. Mungkin karena berawal dari pandangan, maka muncullah istilah cinta pada pandangan pertama. Kenapa harus ada kata "jatuh" sebelum kata "cinta"? Padahal dua kata itu sangat berlawanan maknanya. Kata "jatuh" beraura negatif. Siapa pun yang terjatuh pasti akan terluka atau merasakan rasa sakit. Sementara kata "cinta", beraura positif. Siapa pun yang merasakannya pasti akan bahagia.

Pagi temaram itu masih pada puncak bukit 1695 mdpl, saat itu aku ingin berkunjung ke bivoak dan bergemul dengan hangatnya kepompong tidur, tapi aku sudah kesepakatan awal tentang ROP (Rencana Operasi Perjalanan) aku harus tetap terjaga ‘tuk sekedar melindungi kawan-kawan yang berada di puncak bukit 1695 mdpl ini, ya puncak bukit antara Gunung Cijambu – Gunung Pangparang – Gunung Putri di kawasan pegunungan Bandung Timur – Sumedang.

Birdwatching @TWA Pananjung Pangandaran
Kembali mengumpulkan pecahan memori yang berantakan agar tersaji bingkai cerita yang bisa dipandangi – melihat cerita “Catatan Kelabu Gunung Cijambu Part 5”. Aku yang baru pertama kali melihatnya ke perempuan itu tentu sempat tak percaya. Apakah ini mimpi atau tidak. Itulah yang membuat aku galau. Hingga rasa kegalauanku langsung menghantuiku seketika saat di puncak sampai sekarang ini. Hingga akhirnya benakku bermain-main dengan khayalanku. ”Oh beginikah rasanya mengejar sesuatu yang kita inginkan?!” Batinku terus bergumam menghalau rasa kebekuanku.

Maklum aku baru pertama kali berhadapan langsung dengan orang yang sama sekali tak aku kenal. Terlebih untuk maksud tertentu dan—dengan tujuan tertentu pula. Pertama kali bertemu. Dan itulah awal aku menginjaki cinta itu. Aku ingin mengetahui lebih sosok rupa perempuan yang aku lihat saat itu. Seorang perempuan dengan senyum manis dan lesung pipit indah di samping bibir—yang sebelumnya aku selidiki di dunia maya. Dan… ternyata benar. Ia berlesung pipit, ayu dan mengenakan kudung merah maroon yang menutupi kepalanya, warnanya sama seperti syal kebangganku. Sungguh perempuan seribu satu yang begitu peduli dengan kehormatannya sebagai perempuan—dengan menutupi aurat—rambut sebagai perempuan—dengan menutupi aurat—rambut sebagai mahkota seorang perempuan. Dan… ia tersenyum simpul malu saat bersitatap denganku. Amboiii… apakah aku sedang bermimpi? Entahlah. Tapi begitulah saat aku pertama kali berjumpa dengannya. Walau aku tidak sendiri!.

Beginilah kondisinya sekarang, kata kebanyakan orang aku sedang jatuh hati, hatinya sedang terjatuh, dan selalu berharap terjatuh pada tangkapan si bunga pemekar hati. Apapun yang dilihatnya dan apapun yang didengarnya, semuanya selalu mengingatkanku pada bunga itu. Segalanya terasa manis dan romantis, bahkan kini semangat merah saga pun telah menjadi merah maroon.

Kembali dia bersandar pada tiang itu, kembali senyumnya merekah tak karuan. Dia rogoh kantong celananya untuk menggenggam dan mengambil sebuah produk teknologi, handphone. Hatinya mulai berdegup kencang, untuk kesekian kalinya aku membuka inbox handphone, tertuju pada sebuah pesan, singkat isinya, hanya 3 karakter, :-). Ah.. Luar biasa rasanya membaca pesan itu, hampir saja angan lepas dari akalnya. Memang, bukan isinya yang singkat yang membuat hatiku berdegup tak karuan, tapi lihatlah siapa yang mengirimkan pesan itu, dia..

Masih terpaku pada lamunan dan senyumnya. Tiga karakter itu seolah membius dan mengisnpirasi senyumku. Hilanglah beban yang sedari pagi terus bergantung di pundakku, semuanya terasa begitu ringan. Pesan singkat itu hadir bak fajar yang menyibak langit malam, kini lebih indah dan terang, manis dan romantis..

Mengalir lembut, sebuah kibasan angin baru saja menyadarkan-ku dari sebuah lamunan angan, sejenak mengembalikan akal-ku. Benar saja, hanya sejenak akal-ku kembali, menolehlah aku kepalanya pada sumber angin itu. Ahh.. berdesir-desir hatiku, kain panjang nan cantik itu sumbernya, secantik perempuan yang mengenakannya. Penutup kepala itu ternyata sumbernya, dan dia si pengirim pesanlah pengenanya.

Catatan akhir kampus, 27 April 2011 @ Taman Teletubbis Cekdam Kampus Unpad - Jatinangor

1 comment:

  1. Terima kasih atas koreksinya....yg di Edelweis memang kecil utk javanicanya...bila mengacu pada judul, itu hanya aturan tak tertulis penulisan judul artikel saja...thx again..

    ReplyDelete

Terimakasih Untuk Komentar Anda Di Artikel Ini.