Doa Dalam Sunyi

Angin datang dari mana? | Merayapi lembah gunung | Ada luka dalam duka | Dilempar kedalam kawah
Memanjat tebing tebing sunyi | Memasuki pintu misteri | Menggores batu batu | Dengan kata sederhana | Dengan doa sederhana
Merenung seperti gunung | Mengurai hidup dari langit | Jejak jejak yang tertinggal | Menyimpan rahasia hidup
Selamat jalan saudaraku | Pergilah bersama nasibmu | Pertemuan dan perpisahan | Dimana awal akhirnya? | Dimana bedanya? 2x
Doa doa terdengar dalam sunyi | Doa doa terdengar dalam sepi || Iwan Fals - Doa Dalam Sunyi

resapi dan maknai dalam-dalam lirik lagu iwan fals tersebut.

Hari ini, Tuhan membolak-balik hati, emosi, dan keseluruhan diri saya. Ini semata, Tuhan tidak berniat iseng, dengan mempermainkan diri saya. Tuhan membolak-balik emosi saya, seperti petani yang membolak-balik tanah agar kesuburuannya sempurna. Tuhan rupanya, lewat kisah yang akan saya ceritakan kepada Anda, tengah membuat kesuburan saya menjadi sempurna. Tetapi ‘kesuburan’ di sini bukan dalam artian ‘fertil’. Tetapi memperkaya saya dengan inspirasi, agar terdongkrak semangat spiritual saya.

Pukul tujuh, seperti kebiasaan saya, saya mematikan laptop dan menyimpan baik-baik segala apa yang sudah menggelegak di benak. Ya, ba’da shalat shubuh saya memang sudah mencumbui laptop HP probook jadul saya, untuk memuasi dahaga saya memuntahkan segala apa yang sudah berjubel di benak. Tentu, yang berjubel itu adalah bahan-bahan yang harus saya tuliskan. Ini adalah kebiasaan yang sudah “menjadi saya”. Apa yang saya lakukan ini berlangsung semenjak saya menemukan sebuah kalimat sakti, lima tahun lalu sejak 2007.

“Menulislah setiap pagi, maka Anda akan menjadi penulis.”

Inilah kalimat sakti yang saya temukan ketika sedang membaca buku. Kalimat itu saya temukan, ketika dalam diri saya mulai terbersit untuk menulis—atau ingin menjadi penulis. Aktivitas itu saya lakoni, hingga kini. Dan hasilnya luar biasa, saya bisa melihat diri saya berbeda.

Baik, kita kembali kepada maksud Tuhan mengaduk-aduk emosi saya. Setelah mematikan laptop, saya pun mandi. Lantas pergi ke tempat yang semalam sudah saya agendakan untuk ke sana. Di pinggir jalan, saya dihadapkan dengan beberapa orang pengemis.

Macam-macam tipikal mereka, ada yang meringis, nyengir, sampai kepada mimik muka mengenaskan—meski kadang dibuat-buat. Semua dilakukan—saya kira—untuk menarik simpati para “klien”-nya. Saya sama sekali tidak tertarik dengan akting mereka.
Tetapi, semakin saya berjalan, ada pula pengemis yang benar-benar dengan bangga memamerkan koleksi penderitaan mereka. Ada yang (maaf) tidak punya jemari, ada yang luka parah, sampai ada yang memiliki beberapa kelainan (atau keajaiban?). Mereka memiliki dan memamerkan itu, dengan satu tujuan. Agar “klien” merasa iba, dan bersegera memberi mereka uang.

Beberapa waktu kemudian, ketika saya sudah selesai dengan aktivitas saya, saya kembali ke tempat saya. Saya melintasi Pasar Kaget yang ada di sekitar Unwim Jatinangor. Ketika saya sedang melihat-lihat barang yang dijual, melintaslah seorang lelaki di hadapan saya. Mata saya, ketika menjumpainya terang menjungkirkan emosi yang semula mengada pada diri saya. Seorang lelaki yang melintas di hadapan saya sudah berusia tua—mungkin seusia Abah saya. Lelaki tersebut (maaf) hanya bertangan satu, dan nampak memanggul sesuatu.

Emosi saya meluap ketika melihat apa yang dilakukan lelaki tua bertangan satu itu. Karung besar yang dipanggulnya dia letakan, dan sisa tangannya memungut gelas plastik bekas minuman. O, rupanya dia pemulung.

Sewaktu saya masih dikampus sedang masa-masanya senang berjelaga ditengah perapian, seusai menunaikan sholat subuh, saya melihat ada seorang pemulung yang sama yang saya lihat di pasar unwin tersebut, tangan buntung dan terus mengambil dan barang-barang yang mungkin berguna, mulai dari botol plastik, gelas plastik, dll. berjibaku diriku saat melihatnya, bagaimana tidak pagi sekitar pukul 4.45 atau 4.50 WIB (saya agak lupa) tapi yang jelas beliau sudah bekerja dan berjalan mengambil sampah di kampus Jatinangor tersebut. saya tidak berani mewawancarainya, saya tidak berani memanggilnya, saya cuma bisa berdoa saja waktu itu, dan mengambil selembar uang di dompet dan dengan ikhlas saya memberikan kepadanya dan sisa makanan (roti dan biskuit) berjelaga yang masih layak untuk dimakan sekedar sarapan mengganjal perutnya.

Saya lalu membandingkan antara lelaki tua bertangan satu yang pemulung itu dengan pengemis yang berjejer di pinggir jalan. Mereka sama-sama memiliki kekurangan. Tetapi, derajat mereka di mata saya sungguh jauh berbeda. Saya menahan kesal kala berhadapan dengan para pengemis, tetapi saya menjadi sangat ingin menghormati lelaki bertangan satu yang pemulung itu.

Mereka sama-sama memiliki kekurangan (kalau tidak bisa dikatakan sebagai kelebihan). Mereka sama-sama (maaf) cacat. Tetapi jalan yang dipilih oleh mereka yang membuat orang kemudian melabelkan bintang yang berbeda. Para pengemis mengkapitalisasi kekurangan atau derita dan memamerkannya untuk menarik iba serta kepedulian.

Sementara lelaki bertangan satu itu, menjadikan kekurangannya sebagai pelecut untuk menggenjot semangat dan berkarya lebih baik. Sehingga hasilnya pun berbeda. Lelaki bertangan satu yang pemulung itu mendapatkan mahkota kehormatan, karena kuatnya dia menjaga harga dirinya.

Saya jadi ingat dengan guru ilmu gaib saya, mas Gol A Gong, yang mana beliau juga bertangan satu. Tangan kirinya diamputasi semenjak usia belasan, karena kecelakaan. Beliau mengatakan, “Kehilangan satu tangan, hanya kehilangan daging sekian kilo saja.” Luar biasa, kehilangan beberapa kilo daging tidak lantas membuat harga diri juga ikut hilang.

Saya terus memperhatikan lelaki bertangan satu itu. Dia masih dengan trengginas memunguti sampah plastik. Saya lalu mengambil kesimpulan, seandai ada penghargaan “Man of The Day”, saya akan memilih bapak tua bertangan satu itu sebagai pemenangnya.

Nah Saudara, bagaimana dengan Anda?

4 comments:

  1. Anonymous11/04/2015

    doa dalam sunyi. doa dalam diam. tak ada yang tau didalam ke-diam-an seseorang. Tuhan itu Maha Mendengar. Maha Mengerti. Maha dari segala Maha. disitulah letak ke-ikhlasan...........

    ReplyDelete
  2. izin share kak

    https://www.zonasolo.com/2023/07/membangun-kebiasaan-membaca-yang-rajinmembangun-kebiasaan-membaca-yang-rajin-untuk-anak-dirumah.html

    ReplyDelete

Terimakasih Untuk Komentar Anda Di Artikel Ini.