Lebih Dari Sekedar Sayang [Jilid 2]

Bismillah. Sebelum baca fiksi mini ini harap dibaca dulu jilid pertamanya [disini] ok.

“Tok..tok..tok...” Terdengar ketukan pintu kamarku diseberang.
“Wan..bangun wan, nanti kita telat” Sahut Ibuku.
Menggeliat dihangatnya selimut dan pelukan sayang dari bantal guling. “Iya Buu”. Jawabku singkat.

Sempat kulirik jam dinding. Pukul empat pagi. Sepagi inikah aku harus bangun? Sambil menggeliat dan mengucek-ngucek mata yang tak kuasa menahan rasa kantuk.

Pagi indah ini harus aku sambut dengan gembira dan semangat menggebu. Karena hari ini adalah peresmian aku di wisuda menjadi sarjana sastra dari universitas terkemuka dari Kota Bandung. Wisuda merupakan ajang peresmian menjadi calon pengangguran secara mutlak. Dengan terpaksa akupun mandi jam segini. Jam empat pagi untuk meluncur menjadi pangeran sehari pada wisudaku nanti. Celana baru dan kaos sudah kukenakan. Dasi, sepatu pantofel dan baju wisuda serta atribut kelengkapannya sudah ku bungkus rapi di tas jinjing kecil.

 

Kali ini keluargaku sibuk di pagi-pagi buta.
“Pih, aku saja yang bawa mobil”. Berangkatlah kami menuju Kota Bandung.
Bekal perjalanan sudah siap, atribut kelengkapan wisuda sudah ada di mobil, air minum serta undangan wisuda tidak lupa. Semuanya lengkap sudah dibawa, tak ada yang tertinggal.

Jejak rotasi ban mobil menjadi saksi kala itu. Bergemul dan senandung suka cita tergambar jelas pagi itu. Aku dan Ayahku duduk di depan, sementara Ibuku duduk manis di kursi belakang tepat siku dibelakangku.

Berjalan dan terus melaju tak henti mengejar perjalanan Jakarta-Bandung. Berhenti di rest area sekedar sarapan dan melanjutkan perjalanan kembali. Sesampainya di daerah Tol Cipularang Ayahku memulai percakapan.

“Kalo wisuda itu biasanya rame, ngomong-ngomong nanti ngapain aja, Wan?”
“Kalo gak salah sih hari ini ada tiga ratusan wisudawan Pih, palingan Papih cuma nonton upacaranya sama foto-foto doang.” Jawabku sambil fokus menyetir mobil.

Panjang lebar kami bercerita, sampai akhirnya ayah nyeletuk: “Kamu sudah punya pacar belum? Padahal lima tahun di Bandung kok nggak dapet satu saja gadis Bandung yang geulis sih? “Tenang saja Pih!” Jawabku Singkat.

Dalam hatiku berkata “Padahal aku sudah mempunyai pacar kok!. Tapi belum aku kenalkan saja”. Genap seminggu setelah pendakian cinta tersebut, tapi aku belum memberitakan kepada orangtuaku, maklum lumayan jauh Bandung-Jakarta. Hal ini bertolak belakang dengan kisah Aku terhadap orangtua Annisa, dikarenakan aku kenal dekat dengan Ayahnya yang sering hunting foto bareng di alam atau tempat lainnya. Beda dengan ibunya aku sering dipanggil anak olehnya. 

ditengah jalan akupun memberi kesempatan kepada anggota tubuhku untuk istirahat, sekedar melepas tegang dan capek, gantian sekarang si Papih yang membawa mobil avanza black clasic tahun 2007 itu.

"sudah pukul tujuh pagi Pih, kita harus cepet-cepet sampe Kampus klo gk bisa telat", bisa-bisa gagal semua rencanaku. pikirku melayang saat itu. bosan dengan melihat rambu dan beberapa tulisan di tol, mataku tiba-tiba meredup cepat.

Seketika mata terpejam. Hanya tinggal sebuah lalu lalang temaram, sebuah tanda dan rambu sekelebat kulihat, seolah-olah aku sedang berada di dalam kamar dengan lampu semprong minyak tanah yang kerlap kerlip karena apinya diayun-ayun angin malam di ujung kamar. Jendela kamar dibiarkan terbuka, memerdekakan udara menjelang musim hujan yang sejuk keluar masuk. Sepotong rembulan pucat mengintip dari jendela.

Hari ini aku tertidur pulas walau hanya beralaskan sarung. Malam memuram. Aku telah berselimut dalam gelapnya ruang. Bola mataku tertutup rapat, namun ada gerakan kecil kesana kemari didalam mataku yang tak lagi melihat. Semestinya aku sudah tak terjaga semenjak dua jam lalu. Diamku berkata-kata. Ramai, sangat ramai. Suara detak detik jam di depan ku ternyata telah berputar 3600 kali dengan lesu. Otakku berat. Lebih berat dari berat badanku sendiri aku rasakan seperti itu. Hening membuatku bercermin. Otakku meloncat kesana kemari. Direspon oleh hati yang tak mau berhenti ngoceh kesana kemari. Dalam satu tema yang sama.

Suasana menggelap gulita. Tak ada seberkas cahaya pun tak tertampak. Ini sungguh gelap. Aku berjalan gontai, sangat hati-hati, terus berjalan tapak demi setapak. Pada akhirnya ini sebuah gagang pintu. Sedikit tekanan dan sentuhan lebut ku dorong ke arah berlawanan. Aku sedikit dejavu maju dengan suasana itu. Apa ini, aku berada ditengah-tengah suasana hikmat, ijab qobul pernikahan suci. Duduk dengan gagah sosok pria berkoko lengkap dengan jas hitam legam dibadannya. Itu aku. Itu aku. Itu aku.

Kulihat sekelilingnya. Itu kedua orang tuaku. Papih dan Ibuku. Itu keluarga besarku. Tetapi siapa yang berada disamping pelaminan itu, siapakah bidadari yang menjadi pasanganku. Siapa? Siapa? Siapa? Aku tak bisa melihatnya, aku tidak bisa memandang cantik parasnya. Sungguh meng-ayu balutan kebaya sutera lengkap dengan asesorisnya, harum walau tak tercium. Sungguh gemulai ayunan tangannya. Siapa dia? Siapa? Aku tak bisa melihat wajahnya. Annisa pun bukan, wanita itu tak aku kenali. Siapa?

Mencoba menjadi pendengar yang baik saat itu. Aku dengarkan dengan seksama, suaraku begitu lantang dan lancar mengucap jawaban qobul, dan diteruskan suara doa terdengar begitu hikmatnya. Dia tersenyum kepadaku. Ah mana mungkin aku bisa tersenyum kepada diriku sendiri. Dia menoleh, seperti memberikan isyarat dan nada akan sesuatu. Hanya senyuman. Apa maksudnya? Apa? Apa?

Wan..wan..bangun ayo siap-siap. “titah Ibuku”.
Sedikit kaget luar biasa. Aku diam beberapa detik. Berpikir. Apa maksudnya ini? Ah ini hanya mimpi. Segera ku kenakan baju toga dan kemeja, sedikit kurapihkan rambut dan memperbaiki sedikit mimik muka. Hari ini hari istimewaku, aku harus gembira.

Dengan memikirkan sedikit mimpi tersebut. Ah mana mungkin. Aku terlalu berpikir macam-macam saat itu. Sudahi saja, toh itu sekedar mimpi saja.

Sedikit berdoa untuk hari itu 26 Januari 2011; Ya Tuhanku, berikanlah pertolongan kepadaku dan janganlah Engkau membiarkanku. Menangkanlah aku, dan jangan Engkau jadikan aku orang yang terkalahkan. Limpahkanlah kepadaku kemampuan untuk memberdayakan diri, dan janganlah Engkau memperdayaiku. Tunjukilah aku dan mudahkanlah hidayah-Mu kepadaku. Tolonglah aku dari orang-orang yang berbuat jahat kepadaku. Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur [berterimakasih] kepada-Mu, banyak mengingat [berzikir] kepada-Mu, banyak takut terhadap-Mu, banyak melakukan ketaatan kepada-Mu, banyak tunduk seraya kembali kepada-Mu. Ya Tuhanku, terimalah taubatku, basuhlah perasaan hatiku. Kabulkanlah permohonanku, kokohkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, benarkanlah lisanku, dan musnahkanlah segala kegamangan dalam hatiku.


Setiap mendung menggantung, hadir rasa gelisah terbacalah semua cuaca yang selalu saja berubah sebagai jiwa pengembara yang teguh, betapa pada perjalanan sejauh apa pun akan tetap kita tempuh. Senja akan tiba, tersuguh panorama purba mengukur umur, kita semakin tua saja, hingga tak bisa berlama-lama pada permainan pelangi karena itu sebelum hujan akan jadi turun kita bergegas segera mempersiapkan payung. Hujan senja semakin menambah rasa gelisah malam menjelang datang menutup segala kemungkinan maka, benahi bekal kita menghadapi kehidupan abadi. Jangan heran kenapa anak kecil takut akan malam, sesuai lagu Sheila On 7 feat Amanda (klo gk salah) “jangan takut akan gelap, karena gelap melindungi diri kita dari kelelahan”. 

Tunggulah dgn tidurmu, toh sang mentari akan datang mengajak kita untuk bercanda bersama selama 12 jam penuh. Pagi-MU akan tersuguh udara sejuk – Siang-MU tersaji panas yang menyengat – SoreMU keindahan lembayung senja memiliki arti luas. Jangan takut kawan, semua ada waktunya semua ada ibrahnya (pelajaran) tinggal kita mengambil dan meresapi indahnya rasa itu. “Bahwa hidup itu adalah kombinasi antara niat ikhlas, kerja keras, doa dan tawakal, ikhlaskan semua kepadaNYA”. Aku ikhlas mencintai kamu dan kamu ikhlaskan pula untuk mau dicintai. Bandung, 26 Januari 2011.

tunggu kisah selanjutnya di "Lebih Dari Sekedar Sayang" Jilid 3.
usahakan tinggalkan jejakmu kawan klo sudah membaca fiksi mini ini. thx

No comments:

Post a Comment

Terimakasih Untuk Komentar Anda Di Artikel Ini.